Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Makalah Budaya dan Bahasa

Makalah Budaya dan Bahasa
BAB I
PENDAHULUAN

Telah dikukuhkan oleh para linguist bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetik hanya ada pada manusia. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu. Bahasa hidup berada di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya.

Bahasa dan budaya adalah dua bentuk hasil pemikiran manusia. Banyak ahli yang mengemukakan teorinya mengenai kaitan antara bahasa dan budaya, salah satunya Willem von Humboldt seorang filosof Jerman. Menurutnya “language by its very nature represents the spirit and national character of a people (bahasa adalah repesentasi/perwujudan semangat alami dan karakter nasional masyarakat)”(Steinberg dkk, 2001: 244). Humboldt yakin setiap bahasa di dunia pasti merupakan perwujudan budaya dari masyarakat penuturnya. Jadi, pandangan yang dimiliki oleh suatu masyarakat bahasa tertentu akan tercermin atau terwujud dalam bahasanya. Dan ternyata pendapat Humboldt juga didukung oleh para linguis ternama seperti Edward Sapir (1929) dan Alfred Korzybski (1933).

Bahasa merupakan produk budaya. Bahasa adalah wadah dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya. Koentjoroningrat dalam Chaer (1995:217) menyatakan kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama berkembangnya masyarakat. Berbagai pendapat para ahli mengenai hubungan antara bahasa dan kebudayaan membuat tema ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Sehingga pada akhirnya dapat melahirkan teori-teori baru mengenai hubungan keduanya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

a. Bahasa

Istilah bahasa dalam bahasa Indonesia, sama dengan language, dalam bahasa Inggris, taal dalam bahasa Belanda, sprache dalam bahasa Jerman, lughatun dalam bahasa Arab dan bhasa dalam bahasa Sansekerta. Istilah-istilah tersebut, masing-masing mempunyai aspek tersendiri, sesuai dengan pemakainya, untuk menyebutkan suatu unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat luas, sehingga merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Seperti yang diungkapkan oleh para ahli:


  1. menurut Sturtevent berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosisal untuk kerjasama dan saling berhubungan.
  2. Menurut Chomsky language is a set of sentences, each finite length and contructed out of a finite set of elements.
  3. Menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Masih banyak lagi definisi tentang bahasa yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. Setiap batasan yang dikemukakan tersebut, pada umumnya memiliki konsep-konsep yang sama, meskipun terdapat perbedaaan dan penekanannya. Terlepas dari kemungkinan perbedaan tersebut, dapat disimpulkan sebagaimana dinyatakan Linda Thomas dan Shan Wareing dalam bukunya Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan bahwa salah satu cara dalam menelaah bahasa adalah dengan memandangnya sebagai cara sistematis untuk mengabungkan unit-unit kecil menjadi unit-unit yang lebih besar dengan tujuan komunikasi. Sebagai contoh, kita menggabungkan bunyi-bunyi bahasa (fonem) menjadi kata (butir leksikal) sesuai dengan aturan dari bahasa yang kita gunakan. Butir-butir leksikal ini kemudian digabungkan lagi untuk membuat struktur tata bahasa, sesuai dengan aturan-aturan sintaksis dalam bahasa.

Dengan demikian bahasa merupakan ujaran yang diucapkan secara lisan, verbal secara arbitrer. Lambang, simbol, dan tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa mengandung makna yang berkaitan dengan situasi hidup dan pengalaman nyata manusia.


b. Budaya

Budaya merupakan sebuah istilah yang sangat luas. Dan oleh keluasan itu, maka dapat ditemukan banyak sekali definisi. Di sini yang dimaksud dengan budaya bukan budaya dalam arti seni seperti musik, sastra atau seni rupa. Istilah budaya disini merupakan pengetahuan yang harus diketahui oleh seseorang yang hidup dalam masyarakat yang tertentu. Goodenough (di dalam Wardhaugh, 1992) menegaskan definisi ini: “a society’s culture consists of whatever it is one has to know or believe in order to operate in a manner acceptable to its members, and to do so in any role that they accept for any one of themselves” (budaya masyarakat terdiri dari apa pun yang kita harus tahu atau percaya agar dapat beroperasi dengan cara yang dapat diterima oleh anggotanya, dan untuk melakukannya dalam peran apapun yang mereka terima untuk salah satu dari mereka sendiri).


Wardhaugh (1992) sendiri mengatakan: “Culture, therefore, is the ‘knowledge’ how that person must possess to get through the task of daily living.” (budaya adalah 'pengetahuan' bagaimana orang itu harus memilikinya untuk didapatkkan melalui tugas sehari-hari.)


Definisi di atas belum terlalu memperhatikan aspek bahasa dalam kaitan dengan budaya. Hall (1997, h 2) memberikan definisi yang lebih jelas dan lebih dapat digunakan dalam bidang sosiolinguistik: “To say that two people belong to the same culture is to say that they interpret the world in roughly similar ways and can express themselves, their thoughts and feeling about the world, in ways which will be understood by eachother”.( Dua orang dikatakan memiliki budaya yang sama apabila mereka menafsirkan dunia dengan cara yang kurang lebih sama dan dapat mengekspresikan diri, pikiran dan perasaan tentang dunia, dengan cara-cara yang akan dipahami oleh masing-masing)


Kita tahu bahwa kelebihan manusia adalah berfikir dan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Selama dekade terakhir ini ada perdebatan sengit antara bahasa dan pikiran. Ada yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran adalah suatu identitas yang berdiri sendiri-sendiri. Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Banyak orang yang mendukung mengenai pendapat kedua ini. Salah satu gagasan yang terkenal mengenai hubungan antara perbedaan bahasa secara antar budaya adalah hipotesis Sapir – Whorf yang sering disebut tesis Whorfian. Dalam bagian berikut hipotesis tersebut akan dijelaskan lebih ringkas.


B. Hipotesis Whorfian

Edward Sapir adalah seorang antropolog linguistik yang mengajar di Universitas Yale, Sapir berpendapat bahwa bahasa dan budaya tidak bisa dipisahkan seperti koin yang tidak dapat dipisahkan diantara kedua gambarnya.

Budaya merupakan sebuah realitas yang ditentukan dengan bahasa, dan bahasa adalah sesuatu yang diwariskan secara kultural. Namun demikian, Sapir lebih menekankan bahwa bahasa yang menjadi penentu cara persepsi kita akan kenyataan. Lebih lanjut, Sapir menegaskan pendapatnya dengan menyatakan, bahwa ketika suatu komunitas sosial dihilangkan dari hidup seseorang individu, maka individu itu tidak akan pernah dapat belajar untuk berbicara, artinya mengkomunikasikan ide sesuai dengan tradisi dari masyarakat tertentu.

Sapir memandang bahwa kajian-kajian dalam Linguistik yang umumnya berkisar tentang pemahaman mengenai simbol, istilah atau terminologi Linguistik sebaiknya mulai beralih dan lebih terfokus kepada upaya memahami elemen-elemen bahasa yang menunjang terjadinya kesepahaman antara pengujar dan pendengar. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sapir –yang berbeda dengan Sausurre – yang menyatakan bahwa bahasa itu ada sejauh penggunaannya. Dikatakan dan didengar, ditulis dan dibaca.

Sedangkan Benjamin L. Whorf adalah seorang ahli, yang dikenal Sapir lewat kuliahnya yang diikuti Whorf. Karena minatnya sangat besar dalam bahasa, maka Whorf pun melakukan penelitian, antara lain tentang bahasa Indian Hopi.

Para peneliti membagi hipotesis Whorfian menjadi dua bagian, yaitu :

1. Determinisme Linguistik

Bahasa memandang bahwa struktur bahasa mengendalikan pikiran dan norma-norma budaya. Dengan arti lain manusia hanyalah sekedar hidup disuatu bagian kecil dunia yang dimungkinkan bahasa yang digunakannya. Jadi dunia yang kita ketahui terutama ditentukan oleh bahasa yang diajarkan oleh budaya kita. Maka perbedaan bahasa mempresentasikan juga perbedaan dasar dalam pandangan dunia berbagai budaya.

2. Relativitas Linguistik

Bahasa mengasumsikan bahwa karakteristik bahasa dan norma budaya saling mempengaruhi. Dengan arti lain, budaya dikontrol dan sekaligus mengontrol bahasa. Berdasarkan interpretasi ini bahasa menyediakan kategori-kategori konseptual yang mempengaruhi bagaimana persepsi penggunaannya dikode dan disimpan.

Hipotesis Sapir – Whorf menyatakan bahwa dunia yang kita ketahui terutama ditentukan oleh bahasa dalam budaya kita. “Kramsch (2001:11, 77) juga mengemukakan bahwa orang berbicara dengan cara yang berbeda karena mereka berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka berpikir dengan cara yang berbeda karena bahasa mereka menawarkan cara mengungkapkan (makna) dunia luar di sekitar mereka dengan cara yang berbeda pula”

Menurut Edward Sapir dan Benyamin Whorf, bahasa tidak saja berperan sebagai suatu mekanisme untuk berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai pedoman ke arah kenyataan sosial. Dengan kata lain, bahasa tidak saja menggambarkan persepsi, pemikiran dan pengalaman, tetapi juga dapat menentukan dan membentuknya. Dengan arti lain orang-orang yang berbeda bahasa : Indonesia, Inggris, Jepang, China, Korea, dan lain sebagainya cenderung melihat realitas yang sama dengan cara yang berbeda pula. Implikasinya bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya penekanan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan dan lain sebagainya.

Whorf menemukan dalam pekerjaan sebagai insinyur dalam bidang pencegahan kebakaran bahwa penutur dalam bahasa Inggris menandaikan tempat untuk bahan bakar (drigen bensin) dengan “full” atau “empty”. Whorf mengatakan bahwa implikasinya kata empty membuat orang disekitar drigen bensin itu kurang hati-hati. Padahal botol atau drigen bensin yang “empty” sebenarnya penuh dengan gas dan dapat menyebabkan ledakkan yang jauh lebih bahaya daripada drigen yang penuh bensin. Whorf berpendapat bahwa struktur dalam bahasa kita dapat mempengaruhi perilaku kita.

Dalam kajiannya dengan bahasa Hopi, sebuah bahasa pribumi di Amerika, Whorf membandingkan bahasa tersebut dengan yang dia sebut “Standard Average Eropean” (SAE) yaitu bahasa Inggris, bahasa Pirancis dan bahasa Jerman. Dia menemukan perbedaan antara istilah untuk orientasi dan waktu dalam pembandingan tersebut dan menyimpulkan bahwa karena ada perbedaan tersebut, persepsi penutur Hopi juga berbeda dengan persepsi penutur SAE.

Ketika kita melihat kaitan antara bahasa dan budaya dengan pandangan Whorf, berarti bahasa memfasilitasi sebuah filter untuk realitas kita. Bahasa mendeterminasi bagaimana penutur memperoleh dan mengorganisasi dunia alami dan dunia sosial yang ada di sekitar mereka.

Pada hipotesis Whorfian muncul pendukung maupun banyak orang linguist yang mengkritik hipotesis tersebut. Linguist yang mendukung Whorf mengatakan bahwa memang ketika ada sebuah istilah khusus dalam suatu bahasa maka untuk penutur lebih mudah untuk meracu pada istilah itu.(lht. Wardhaugh, 222- 223) Sebagai contohnya istilah “latah” tidak ada dalam bahasa Jerman.

Linguist yang mengkritisiasi hipotesis Whorf katakan bahwa ketika hipotesisnya benar, maka tidak ada kemungkinan untuk menjelaskan istilah yang khusus itu dalam sebuah bahasa dimana istilah tersebut tidak ada. Kita harus menganggap bahwa semua bahasa memiliki sumber linguistik seperlunya yang memungkinkan penuturnya untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.

C. SISTEM KEKERABATAN

Suatu cara yang menarik untuk diteliti dimana manusia menggunakan bahasa adalah dalam hidup sehari-hari ketika merujuk terhadap kekerabatan. Oleh karena sistem kekerabatan memiliki kebersamaan dalam semua bagian dunia ini, tetapi manusia menggunakan sistem berbeda untuk berbicara tentang kekerabatan mereka. Tentang topik ini ada banyak literatur dan kajian. Beberapa sistem jauh lebih kaya daripada sistem lain dan peraturannya berbeda-beda. Dalam bahasa Jerman misalnya, istilah untuk “brother” dan “sister” hanya digunakan untuk kakak atau adik laki-laki atau perempuan, sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, dimana istilah kakak/adik juga dapat digunakan dalam hubungan sosial yang lain, yang tidak semestinya merancu pada hubungan dalam keluarga.

Dalam berbagai system kekerabatan hubungan yang berbeda kadang-kadang dikasih istilah yang sama dan kadang-kadang hubungan yang similar ditandai dengan istilah berbeda. Untuk mengerti kenapa system itu bisa berbeda-beda, harus ada pengetahuan tentang kebudayaan penuturnya. Dengan perubahan sistem kebudayaan dapat disimpulkan bahwa sistem kekerabatan juga akan berubah dan mereflek perubahan tersebut.

D. MULTIKULTURALISME

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Pengertian multikulturalisme menurut beberapa ahli:
“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).

Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu.

Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.

Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.

E. HUBUNGAN ANTARA BAHASA DAN BUDAYA

Bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan sederajat yang kedudukannya sama tinggi. Masinambouw dalam Chaer (1995:217) menyebutkan bahwa kebudayaan dan bahasa merupakan suatu sistem yang melekat pada manusia. Hubungan bahasa dengan kebudayaan memang erat sekali, bahkan sering sulit mengidentifikasi hubungan antarkeduanya karena mereka saling mempengaruhi, saling mengisi dan berjalan berdampingan. Menurut Nababan (1993:82) ada dua macam hubungan bahasa dan kebudayaan, yakni (1) bahasa adalah bagian dari kebudayaan (filogenetik), dan (2) seseorang belajar kebudayaan melalui bahasanya (ontogenetik).

Bahasa merupakan sarana pemertahanan kebudayaan. Sebuah kebudayaan akan mampu dimengerti, dipahami, dan dijunjung oleh penerima budaya jika mereka mengerti bahasa pengantar kebuadayaan tersebut. Bahkan sering timbul pendapat bahwa kebudayaan lahir karena bahasa, tanpa bahasa tidak akan pernah ada budaya.

Meski begitu ternyata bahasa suatu masyarakat ternyata sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakatnya. Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Contohnya dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Jadi, kata rice dalam Bahasa Inggris mengacu kepada nasi, beras, gabah, dan padi dalam Bahasa Indonesia. Variasi dalam Bahasa Indonesia itu disebabkan karena kedekatan masyarakat Indonesia dengan nasi sebagai makanan pokoknya yang merupakan bentuk budaya masyarakat Indonesia.

Contoh lain misalnya, dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin yaitu brother dan sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia yaitu yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Kebudayaan Inggris tidak memandang saudara berdasarkan usia namun berdasarkan jenis kelamin berlawanan dengan kebudayaan Indonesia yang lebih mementingkan segi usia. Ini dikarenakan kebudayaan santun masyarakat Indonesia lebih kental dibanding masyarakat Inggris pada umumnya.

Pendapat senada dikatakan oleh Levi-Strauss (dalam Sibarani 1992:104). Menurutnya, bahasa adalah hasil kebudayaan. Dalam hal ini berarti kebudayaan mempengaruhi bahasa seperti halnya pada contoh-contoh di atas. Bahasa merupakan refleksi seluruh kebudayaan dari sebuah masyarakat. Contohnya dapat kita lihat jika kita membandingkan bahasa Sunda dengan bahasa Jawa, yaitu sebagai berikut:

Bahasa Sunda Bahasa Jawa

Amis : manis Amis : amis

Gedang : papaya Gedhang : pisang

Raos : enak Raos : rasa

Atos : sudah Atos : keras

Cokot : ambil Cokot : gigit

Kata dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa meskipun bentuk dan ejaannya sama namun berbeda artinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan latar budaya yang mempengaruhi arti tersebut. Tata cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Kebudayaan yang sudah mendarah daging sangat berpengaruh pada bahasa seseorang. Itulah sebabnya kita perlu memahami norma-norma kebudayaan sebelum atau selain mempelajari bahasa (Hodidjah, artikel hlm. 6).

Pandangan berbeda terungkap dari teori Sapir-Whorf. Teori ini mengungkapkan bahwa bahasa mempengaruhi budaya. Mereka mengatakan demikian karena apa yang diungkapkan pengguna bahasa mencerminkan kebiasaan si penutur. Dalam teori Sapir-Whorf, kebiasaan tersebut timbul dari bahasa sehingga ia menegaskan bahwa bahasa mempengaruhi budaya (kebiasaan). Sayangnya teori ini dianggap lemah untuk saat ini, karena fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa.


BAB III

KESIMPULAN

Perbedaan budaya merupakan sebuah konduksi dalam hubungan interpersonal. Sebagai contoh ada yang orang yang bila diajak bicara (pendengar) dalam mengungkapkan perhatiannya cukup dengan mengangguk-anggukan kepala sambil berkata “uh. huh”. Namun dalam kelompok lain untuk menyatakan persetujuan cukup dengan mengedipkan kedua matanya. Dalam beberapa budaya, individu-individu yang berstatus tinggi biasanya yang memprakarsai, sementara individu yang statusnya rendah hanya menerima saja sementara dalam budaya lain justru sebaliknya.

Kita dapat mengekspresikan perasaan dan budaya kita dengan komunikasi kita, tidak hanya dengan menggunakan tetapi bisa jadi menggunakan gerakan. Namun di berbagai negara gerakan dapat diinterpretasikan dalam cara yang berbeda, sehingga, menurut saya, lebih baik menggunakan bahasa khusus daripada gerakan agar tidak membuat orang lain frustrasi.

Oleh karena itu, apa yang kita sebut budaya dan bahasa terkait satu sama lain, bahwa kita tidak bisa memisahkan mereka dari satu sama lain.

Jadi, kenapa budaya itu beda? Mengapa ia penting? Karena: budaya adalah kehidupan yang kita representasikan; ia adalah bagian dari identitas kita; cara hidup yang unik; kebiasaan kita, ritme kita, makanan kita; dan tentu saja, budaya adalah bahasa kita!

Bahasa ditentukan oleh budaya. Setiap budaya memiliki bahasanya sendiri, alat untuk berekspresi. Bahasa adalah jalan dalam peta budaya. Bahasa memberitahu anda, dari mana seseorang berasal, dan kemana mereka akan pergi. Bahasa sangat penting untuk memahami perspektif budaya kita yang unik. Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Bahasa adalah budaya dan budaya adalah bahasa.

Kita, para calon guru bahasa, sebaiknya mengajarkan bahasa pada siswa kita dengan budaya berperilaku kita yang baik!





Sumber Acuan

Rosihan, Ari. “Hubungan Bahasa dan Budaya” online (http://halamantian.blogspot.com/2012/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html) diakses, 26 Maret 2014.

Raya. “Hubungan Bahasa dengan Budaya” online (http://rayapost.blogspot.com/2009/04/hubungan-bahasa-dengan-budaya_18.html) diakses, 26 Maret 2014.

Ambar. “Bahasa dan Budaya” online (http://ambarmizu2013.wordpress.com/bahasa-dan-budaya/) diakses, 26 Maret 2014.
















Makalah Metode Pembelajaran

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sebuah strategi dalam belajar mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan suatu materi pelajaran dalam suatu lingkungan pengajaran yang meliputi sifat, urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa dan lingkup. Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan belajar tersebut, melainkan juga termasuk materi atau paket pengajarannya.

Perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran itu sendiri, supaya diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif serta efisien. Strategi belajar-mengajar adalah suatu rencana untuk mencapai tujuan. Strategi ini terdiri dari metode dan teknik yang akan menjamin siswa akan mencapai tujuan. Arti strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Metode belajar mengajar merupakan cara yang di dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan. Metode ini berlaku baik bagi guru maupun bagi siswa. Semakin baik metode belajar mengajar yang dipakai maka makin efektif pula pencapaian tujuan. Terkadang metode juga dibedakan dengan teknik belajar. Metode belajar mengajar mempunyai sifat prosedural sedangkan teknik lebih mempunyai sifat implementatif.

Bisa disimpulkan bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan belajar. Lebih luas dari strategi adalah metode atau teknik pengajaran.

Seorang guru harus mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Dalam kelas kemungkinan bisa menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam tugas ini saya akan menjelaskan beberapa metode pembelajaran.

B. RUMUSAN MASALAH


    a. Apa pengertia metode pembelajaran

    b. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi metode pembelajaran

    c. Apa saja macam-macam metode pembelajaran

    d. Metode Pembelajaran apa yang baik untuk digunakan

C. BATASAN MASALAH

Dari rumusan masalah di atas maka agar tidak menyimpang dari perumusannya maka masalah dibatasi pada:

    a. Pengertian Metode Pembelajaran

    b. Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap Metode Pembelajaran

    c. Macam-Macam Metode Pembelajaran

D. TUJUAN

    a. Mendefinisikan arti dari Metode Pembelajaran

    b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi metode pembelajaran

    c. Untuk Mengetahui macam – macam metode pembelajaran

    d. Agar dapat memilih metode pembelajaran yang baik



BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN

Didalam dunia pendidikan, istilah metode secara sederhana berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut kamus Purwadarminta ( 1976 ), secara umum metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik – baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode berasal dari bahasa Inggris yaitu Method artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk memperoleh sesuatu. Sedangkan menurut kamus Webster’s Third New International Dictionary of The English Language ( yang selanjutnya disebut Wbster”s ) yang dimaksud dengan metode pada umumnya adalah: Suatu prosedur atau proses untuk mendapatkan suatu objek. Suatu disiplin atau system yang acapkali dianggap sebagai suatu cabang logika yang berhubungan dengan prinsip – prinsip yang dapat diterapkan untuk penyidikan kedalam atau eksposisi dalam berbagai subjek Suatu prosedur, teknik, atau cara melakukan penyelidikan yang sistematis yang dipakai oleh atau yang sesuai dengan suatu ilmu ( sains ), seni atau disiplin tertentu, Suatu rencana sistematis yang diikuti dalam menyajikan materi untuk pengajaran, Suatau cara memandang, mengorganisasi, dan memberikan bentuk, dan arti khusus pada materi- materi artistic.

Sedangkan menurut kamus The New Lexicon Webster’s Dictionary of The English ( yang selanjutnya disebut dengan The New Lexicon ), metode adalah: “suatu cara untuk berbuat sesuatu untuk mengerjakan sesuatu, keteraturan dalam berbuat, berencana dan lain – lain : suatu susunan atau system yang teratur”. ( 1989 : 628 )

Berdasarkan beberapa definisi metode yang diungkapkan oleh para ahli pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut kehidupan ekonomi, social, politik, maupun keagamaan. Jadi metode erat kaitannya dengan prosedur, proses, atau teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek ( bahan – bahan ) yang diteliti.

Dalam proses pendidikan metode mempunyai peran sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Ia membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami sehingga dapat diserap atau dipahami oleh anak didik dan menjadi pengertian – pengertian yang fungsional terhadap tingkah laku.

Metode adalah strategi yang tidak dapat ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunanakan metode, berbagai macam metode yang guru gunakan tentunya metode yang digunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Sebelum kita beranjak kedalam pembahasan yang selanjutnya alangkah baiknya jika kita mengatahui apa itu pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi – kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efesien.

Sedangkan menurut pendapat lain pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur – unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Sedangkan menurut Arief Sadiman (1990 ), pembelajaran adalah usaha – usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber – sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.

Sedangkan Iskandar ( 1995 )mengartikan pembelajaran adalah upaya untuk mebelajarkan siswa. Dan menurut Dugeng ( 1993 ) adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga dalam pelaksanaan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Dalam interaksi tersebut terlibat beberapa orang diantaranya siswa, guru, dan tenaga ahli lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Sedangkan sumber belajar diantara buku – buku, papan tulis, dan kapur, fotograpi, slide dan film, audio dan video tape.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Nana Sudjana (2005: 76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan M. Sobri Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.

Berdasarkan definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan.

Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tiga cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan secara cepat.

Setiap tujuan yang dirumuskan menghendaki penggunaan metode yang sesuai. Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan setiap guru tidak mesti menggunakan satu metode, tetapi bisa juga menggunakan beberapa metode dalam sebuah pembelajaran. Apalagi jika rumusan itu lebih dari satu, dua ataupun tiga rumusan tujuan. Dalam hal ini guru perlu adanya sebuah penggabungan penggunaan metode pengajaran. Dengan begitu kekurangan metode yang satu akan tertutupi dengan metode yang lainnya lagi, dengan demikian metode mengajar yang saling melengkapi ini akan menghasilkan hasil pengajaran yang lebih baik daripada menggunakan atau terpaku dalam satu metode.

Metode mengajar yang berfariasi akan menggairahkan belajar anak didik. Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para peserta didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.

Pada suatu kondisi tertentu anak didik akan merasa bosan dengan metode ceramah, disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan penjelasan guru tentang suatu masalah. Kegiatan pengajaran seperti itu harus guru alihkan dengan metode yang lain bisa dengan metode Tanya jawab atau metode diskusi, karena kemampuan setiap metode tersebut berbeda – beda, kemampuan yang dihasilkan oleh metode ceramah tentunya akan berbeda dengan metode yang dihasilkan oleh metode Tanya jawab atau diskusi. Demikian juga dengan penggunaan metode mengajar lainnya yang diantaranya adalah metode eksperimen, observasi, karyawisata, problem solving, dan lain sebagainya yang nanti akan kita bahas di dalam macam – macam metode.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI METODE PEMBELAJARAN

Sebagai suatu cara, metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya, jika memahami sifat-sifat masing-masing metode tersebut. Menurut Winarno Surakhmad dalam Djamarah (2002:89) pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:

a. Anak didik

Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah, gurulah yang berkewajiban mendidiknya. Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pembelajaran mana yang sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

b. Tujuan

Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar-mengajar. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran ada berbagai jenis, ada tujuan instruksional, tujuan kurikuler, tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional. Metode yang dipilih guru harus sejalan dengan taraf kemampuan anak didik dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

c. Situasi

Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari.Guru harus memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi yang diciptakan itu.

d. Fasilitas

Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pembelajaran. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah.Misalnya ketiadaan laboratorium untuk praktek IPA kurang mendukung penggunaan metode eksperimen.

e. Guru

Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda. Latar pendidikan guru diakui mempengaruhi kompetensi. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi kendala dalam memilih dan menentukan metode.


C. Syarat-syarat metode pembelajaran

Menurut Ahmadi dalam (Asih, 2007:20) syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar adalah:

1. Metode mengajar harus dapat mermbangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa.

2. Metode mengajar harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.

3. Metode mengajar harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.

4. Metode mengajar harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan).

5. Metode mengajar harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.

6. Metode mengajar harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yng nyata dn bertujuan.

7. Metode mengajar harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.



D. MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN

Metode mengajar terdiri dari beberapa macam, mulai dari yang tardisional – konvensional sampai yang modern – kontemporer. Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar. Para pakar menyebutkan beberapa macam metode dalam pembelajaran. Pupuh Fathurohman mengatakan metode terdiri dari : Metode Proyek, Metode Eksperimen, Metode Penugasan, Metode Diskusi, Metode Sosiodrama, Metode Demontrasi, Metode Problem Solving, Metode Karyawisata, Metode Tanya Jawab, Metode Latihan, Metode Ceramah. Kemudian seiring dengan Pupuh Fathurahman, Drs. Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna M.Ag sepakat dengan macam metode yang dipaparkan oleh Pupuh Fathurahman.

Berbeda dengan Dra. Ihat Hatimah beliau memaparkan bahwa macam metode lebih kurang ada tiga puluh macam, yaitu:

1. Metode DIAD.

Metode DIAD Yaitu cara komunikasi diantara dua orang baik secara lisan maupun tertulis terutama menyangkut identitas dari masing – masing Pribadi.

2. Metode Tanya Jawab.

Metode Tanya Jawab yaitu cara penjelasan informasi yang pelaksanaannya saling bertanya dan menjawab antara sumber belajar dengan warga belajar.



3. Metode BROKEN SQUARE.

Metode Broken Square yaitu cara penyusunan pecahan – pecahan Bujur sangkar yang dilakukan oleh empat atau lima kelompok menjadi bentuk bujur sangkar.

4. Metode Ceramah.

Metode Ceramah yaitu cara penyampaian informasi secara lisan yang dilakukan oleh sumber belajar kepada warga belajar.

5. Metode Brainstorming.

Metode Brainstorming atau curah pendapat yaitu cara menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap warga belajar tentang suatu permasalahan.

6. Metode Sambutan Melingkar.

Metode Sambutan Melingkar yaitu suatu cara untuk menghimpun pendapat warga belajar, yang pelaksanaannya setiap warga belajar harus mengemukakan pendapatnya sesuai dengan permasalahan yang diajukanoleh sumber belajar secara bergiliran dalam keadaan tempat duduk yang melingkar.

7. Metode Diskusi Kelompok.

Metode Diskusi Kelompok yaitu cara pembahasan suatu masalah oleh jumlah anggota kelompok untuk mencapai suatu kesepakatan.



8. Metode Rembuk Sejoli.

Metode Rembuk Sejoli yaitu cara pemecahan suatu masyalah yang pelaksaanaannya warga belajar dalm kelompok dibagi secara berpasangan kemudian dalam waktu yang singkat masing – masing kelompok membahas suatu msayalah dan diakhiri dengan penyampaian laoprannya oleh masing – masing juru bicara dalam kleompok besar.

9. Metode Buzz Group.

Metode Buzz Group Yaitu cara pembahasannya suatu maslah yang pelaksanaannya warga belajar dibagi beberapa kelompok antara tiga sampai enam orang membahas suatu maslah yang diakhiri dengan penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara pada kelompok besar.

10. Metode Phillips 66.

Metode Phillips 66 yaitu cara pembahsan masalah yang pelaksanaanya warga belajar dibagi dalam kelompok kecil terdiri dri enam orang dan dalam waktu enam menit membahas suatu masyalah yang diakhiri dengan penyampaian laporan oleh setiap juru bicara dalam kelompok kecil.

11. Metode Fish Bowl.

Metode Fish Bowl atau metode cawan ikan yaitu cara pmecahan masalah melalui diskusi yang pelaksanaannya waraga belajar dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dalam dan kelompok luar. Yang melaksankan diskusi yaitu kelompok dalam, sedangkan kelompok luar berperan sebagai pendengar yang satu waktu bisa pindah pada kelompok dalam untuk mengemukakan pendapat.

12. Metode Membaca dan Bsrdiskusi.

Metode Membaca dan Berdiskusi yaitu cara pembahasan suatu permasalahan melalui diskusi dengan mengawali kegiatan dengan membaca terlebih dahulu.

13. Metode Lukisan Kelompok.

Metode Lukisan Kelompok yaitu cara mengekspresikan gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk gambar yang diakhiri dengan kegiatan diskusi yang baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus.

14. Metode Karangan Kelompok.

Metode Karangan Kelompok yaitu cara pengekspresian gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk karangan kelompok yang diakhiri dengan kegiatan diskusi baik yang bersifat umum maupun khusus.

15. Metode Forum Musik.

Metode Forum Musik yaitu cara pembahsan sesuatu hal yang diawali dengan mendengarkan musik terlebih dahulu oleh warga belajar.

16. Metode Penelaahan Induktif Kitab Suci.

Metode Penelaahan Induktif Kitab Suci yaitu cara penelaahan sesuatu ayat Kitab Suci yang dikemukakan oleh sumber belajar.

17. Metode Pembahasan Mendalam Kitab Suci.

Metode Pembahasan Mendalam Kitan Suci yaitu cara pembahasan ayat – ayat Kitab Suciyang dikemukakan oleh warga belajar baik secara lisan maupun tertulis

18. Metode Demontrasi.

Metode Demontrasi yaitu cara memperagakan sesuatu hal yang pelaksanaannya diawali oleh peragam sumber belajar kemudian diikuti oleh warga belajar.

19. Metode Resitasi/Penugasan.

Metode Resitasi yaitu cara pemberian tugas yang dilakukan oleh sumber belajar kepada warga belajar yang pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas, serta dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

20. Metode Drill/Latihan.

Metode Drill yaitu cara melatih warga belajar tentang kegiatan – kegiatan tertentu secara berulang ulangdengan materi yang sama.

21. Metode Symposium.

Metode Symposium Yaitu cara penyimpanan materi secara lisan dilakukan berupa kegiatan ceramah oleh beberapa orang nara sumber.

22. Metode Panel.

Metode Panel yaitu cara pembahasan suatu masalah melalui suatu kegiatan diskusi yang dilakukan oleh beberapa ahli dari berbagai keahlian dihadapi oleh warga belajar.

23. Metode Forum/Diskusi Panel.

Metode Forum Panel merupakan pengembangan dari metode panel. Metode Forum Panel sama dengan Metode Diskusi Panel

24. Metode Seminar.

Metode Seminar yaitu cara penyampaian informasi brdasarkan hasil penelitian yang diikuti dengan kegiatan diskusi oleh seluruh warga belajar dibawah bimbingan sumber belajar.

25. Metode Studi Kasus.

Metode Studi Kasus yaitu cara penelaahan suatu kasus nyata dilapangan melalui kegiatan penelitian, yang diakhiri dengan kegiatan penyampaian laporan.

26. Metode Colloquy.

Metode Colloquy yaitu cara pembahasan suatu permasalahan yang dilakukan oleh tiga atau empat orang nara sumber dengan didasarkan kepada pertanyaan yang dilakukan oleh tiga atau empat orang sebagai wakil kelompok warga belajar.



27. Metode Karyawisata.

Metode Karyawisata Yaitu cara mengunjungi suatu tempat/objek tertentu dengan melibatkan seluruh warga belajar, dengan kegiatan ada unsure karya dan unsure wisata.

28. Metode Simulasi.

Metode Simulasi yaitu cara permainan yang merupakan cuplikan satu situasi kehidupan nyata yang diangkat dalam kegiatan belajar.

29. Metode Role Playing/Bermain Peran.

Metode Role Playing yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan secara singkat oleh warga belajar dengan tekanan utama pada karakteristik/ sifat seseorang dengan dasar memerankan cuplikan tingkah laku dalam situasi tertentu, yang dilanjtkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.

30. Metode Socio drama.

Metode Socio Drama penerapan dan langkah – langkahnya pada prinsipnya sama dengan metode Role Playing yaitu sama –sama termasuk rumpun metode permainan.


E. Ciri – Ciri Umum Metode Yang Baik

Dari pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa terdapat banyak sekali metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, tapi dari sekian banyak metode yang disajikan, pastinya ada yang baik manfaatnya bagi guru dan ada pula yang buruk manfaatnya, tergantung guru yang menggunakannya.

Mohammad al Taoumy ( 1983 ) mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni:

1. Berpadunya Metode dari segi tujuan dan alat dengan jiwa dan ajaran akhlaq Islam yang mulia.

2. Bersifat luwes, Fleksibel dan memiliki daya suai dengan watak siswa dan materi.

3. Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan siswa dalam kemampuan praktis.

4. Tidak mereduksi materi, bahkan sebaliknya justru mengembangkan materi

5. Memberikan keleluasan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya.

6. Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.




BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan beberapa definisi metode yang diungkapkan oleh para ahli pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut kehidupan ekonomi, social, politik, maupun keagamaan. Jadi metode erat kaitannya dengan prosedur, proses, atau teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek ( bahan – bahan ) yang diteliti.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi – kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efesien.

Metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan.

Metode mengajar terdiri dari beberapa macam, mulai dari yang tardisional – konvensional sampai yang modern – kontemporer. Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar. Para pakar menyebutkan beberapa macam metode dalam pembelajaran. Pupuh Fathurohman mengatakan metode terdiri dari : Metode Proyek, Metode Eksperimen, Metode Penugasan, Metode Diskusi, Metode Sosiodrama, Metode Demontrasi, Metode Problem Solving, Metode Karyawisata, Metode Tanya Jawab, Metode Latihan, Metode Ceramah. Kemudian seiring dengan Pupuh Fathurahman, Drs. Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna M.Ag sepakat dengan macam metode yang dipaparkan oleh Pupuh Fathurahman. Sedangkan Dra. Ihat Hatimah beliau memaparkan bahwa macam metode lebih kurang ada tiga puluh macam.



B. SARAN

Setiap guru yang akan mengajar pasti akan dihapkan pada suatu pilihan metode. Banyak sekali metode yang dapat diguanakan dalam proses belajar mengajar, tapi saya yakin dari sekian banyak metode yang disajikan, ada yang baik manfaatnya bagi guru dan ada yang buruk manfaatnya, itu tergantung guru yang menggunkannya, sejauh mana ia bisa menempatkan metode tersebut sesuai tujuan yang diharapkan. Jadi seorang guru harus mampu memilih metode yang baik untuk digunakan dalam proses belajar mengajar.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2013). Metode Belajar Mengajar, http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/07/metode-belajar-mengajar.html (diakses 18 april 2014)

Hipni Rohman (2011). Pengertian/Defenisi Metode Pembelajaran, http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-definisi-metode-pembelajaran.html, (diakses 18 april 2014)

Ibrahim (2012). Metode Dalam Pembelajaran, http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/09/metode-dalam-pembelajaran.html, (diakses 18 april 2014)

Ishaq Ponco (2013). Pengertian Metode Pembelajaran, Macam-Macam, Syarat dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Metode Pembelajaran, http://20316702.siap-sekolah.com/2013/11/18/pengertian-metode-pembelajaran-macam-macam-syarat-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-metode-pembelajaran/#.U1AQlnYr2CI, (diakses 18 april 2014)

Membuat Makalah yang Baik dan Benar

Makalah adalah karya tulis ilmiah yang membahas pokok masalah tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup tertentu yang mendalam.

Makalah lazimnya disusun untuk disajikan dalam pertemuan formal tertentu , atau untuk diterbitkan dalam jurnal atau majalah ilmiah tertentu. Sebagai tulisan ilmiah, makalah mempergunakan proses berpikir ilmiah dalam pembahasan pokok masalahnya, tidak semua langkah berpikir ilmiah terdapat pada makalah tersebut.
berikut bentuk pokok dari makalah adalah:
  1. Bagian Pembuka yang terdiri dari Halaman judul, Halaman pengesahan, Kata pengantar, Daftar isi, dan Isi Ringkasan
  2. Isi yang terdiri dari Pendahuluan, Latar belakang masalah, Rumusan masalah, Pembatasan masalah, Tujuan, dan Manfaat penelitian.
  3. Tinjauan yang terdiri dari Pembahasan teori, Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan, dan Pengajuan hipotesis.
  4. Metodologi Penelitian yang terdiri dari Waktu dan tempat penelitian, Metode dan rancangan penelitian, Populasi dan sampel, Instrumen penelitian, Pengumpulan data dan analisis data.
  5. Kesimpulan dan Saran yang terdiri dari Kesimpulan, dan juga Saran